Search This Blog

GPA Medan Marelan Imbau Pemuda Jangan Golput

Friday, November 27, 2015

MedanBisnis - Medan. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) Medan Marelan Azhar SPdI (foto) mengimbau para pemuda yang ada di Kecamatan Medan Marelan untuk terlibat langsung dan berpartisipasi dalam kancah politik sehingga pemuda dengan sikap kritis dan objektifnya akan menentukan sosok pemimpin yang tepat khusunya dalam menentukan siapa Walikota Medan yang akan datang. "Pemuda Marelan jangan golput dalam Pemilukada serentak pada tanggal 9 Desember 2015 yang sudah di ambang pintu, merupakan pesta demokrasi yang menggunakan uang rakyat," serunya.

Sekretaris KNPI Medan Marelan ini menambahkan, anggaran yang besar tersebut harus dimanfaatkan sebagai hak politik setiap penduduk Kota Medan, melihat pemilu terakhir partisipasi masyarakat masih rendah.

Pemuda Medan Marelan harus aktif dan proaktif dalam pemilukada yang sudah di depan mata, tetapi harus tetap mempertahankan sikap idealisme dan daya kritisnya dalam mengawal pemilukada serentak yang rentan dengan politik transaksional. "Pemuda diharapkan memberikan politik kepada masyarakat dengan melihat program program dari pasangan calon," ujar Azhar.

Pemuda Medan Marelan harus mensukseskan pemilukada dengan mengedepankan intelektualitas dalam menjalankan hak politiknya, sehingga tidak menerapkan praktik-praktik politik yang kotor karena dengan begitu akan menghasilkan pemimpin yang kotor juga.

"Pemuda harus berada di garda terdepan untuk mencegah aktivitas politik yang menghalalkan segala cara, money politics dan menggunakan cara-cara kekerasan atau premanisme politik. Suksesnya pemilukada adalah dengan terpilihnya sosok pemimpin Kota Medan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat dan berlangsung aman serta damai," tegasnya.

Pemuda Medan Marelan juga harus menjaga kondusifitas Medan Marelan dan tidak mudah terpancing dengan pihak pihak ingin memecah persatuan dan memprovokasi.

"Pemilukada serentak ini bukan hanya masalah memilih kepala daerah semata melainkan sebuah momentum untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat di Medan Marelan yang bagian dari Medan Utara ini harus mendapatkan perhatian yang lebih karena melihat potensinya yang luar biasa," kata Azhar. (zainul abdi nasution/ril)


Sumber : http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/11/24/200399/gpa-medan-marelan-imbau-pemuda-jangan-golput/#.VlhGa328oZ8
 
Read More >>

Al Washliyah Kebanggaan Masyarakat

Monday, November 9, 2015

Plt Gubsu T Erry Nuradi :

Medan, (Analisa). Plt Gubernur Sumatera Utara, T Erry Nuradi, MSi mengatakan, Ormas Al Washliyah merupakan kebanggaan masyarakat Sumatera Utara, sebab Ormas terbesar ini lahir di Sumatera Utara. Berbeda dengan Nahdatul Ulama yang lahir di Jawa Timur, Matlaul Anwar lahir di Jogya.

“Karena itu wajar kalau pemerintah Sumatera Utara harus dekat dengan Al Washliyah, kalau tidak dekat akan merugi,” kata Plt Gubsu saat memberikan sambutan pada Rakerwil II PW Al Washliyah Sumatera Utara di Hotel Saka, Medan, Sabtu (7/11).

Rakerwil itu dihadiri Ketua PB Al Washliyah diwakili Sekjen Masyhuril Khamis, Ketua PW Al Washliyah Sumut, Syaiful Ahyar Lubis dan pengurus wilayah lainnya, utusan 19 PD, mewakili Pangdam I/BB dan Kapoldasu, Ketua Panitia H Isma Padli A Pulungan, Dr Asren Nasution, Prof Ramli Abdul Wahid, dan para kader Al Washliyah lainnya, serta calon wakil Walikota Medan Achyar Nasution.

Plt Gubsu juga mengingatkan, kondisi Sumut hari ini berbeda sehingga menuntut berbuat jauh dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Kondisi harus dimasukkan dalam program kerja Al Washliyah sehingga ke depan Sumut menjadi lebih baik.

“Kita tak akan mungkin mendapatkan pemimpin yang lebih baik untuk Sumut, kabupaten/kota kalau masyarakatnya tidak baik. Sebab pimpinan merupakan citra dari masyarakatnya,” katanya.

Menurut dia, bila memilih pemimpin berdasarkan materi, maka akan didapat pemimpin yang senang dengan KKN. “Pemimpin yang baik itu akan lahir dari masyarakat yang baik, dan paradigma ini harus kita tanamkan dalam pribadi masing-masing,” ucapnya.

Plt Gubsu juga berharap program-program kerja yang dilahirkan dari hasil Rakerwil PW Al Washliyah tersebut dapat bersinergi dengan Pemprovsu, seperti kegiatan program pendidikan, sosial, dan kesehatan.

“Kita semua berharap hari ini lebih baik dari hari kemarin. Saya yakin Al Washliyah yang punya banyak sarana pendidikan, panti asuhan, sudah tentu akan membantu dalam mencerdaskan bangsa. Tentu saja program ini sejalan dengan program Pemprovsu dan kabupaten/kota,” ucapnya.

Plt Gubernur Sumatera Utara, T Erry Nuradi mengharapkan organisasi Islam terbesar dan tertua di Sumut Al Jam’iyatul Washliyah tetap menjadi pemersatu umat Islam di Sumatera Utara sebagaimana tujuan kelahirannya pada 85 tahun silam.

Ketua PW Al Washliyah Sumut, Syaiful Ahyar Lubis mengaku, ini merupakan tindaklanjut dari Rakerwil I. Rakerwil I akan ditinjau ulang apa yang sudah terlaksana dan belum prioritas untuk dihasilkan pada Rakerwil II.

Dia menyebutkan, muara Rakerwil II merumuskan prinsip dan T3 yakni tertib adminitrasi, keuangan, dan konsolidasi. “Al Washliyah sangat butuh itu untuk bisa diaplikasikan,” tandasnya.

Dia juga menyampaikan, dalam Rakerwil II ini sepakat tidak perlu hasil muluk-muluk. Memulai yang sifatnya realistis walaupun pahit. “Tanamkan prinsip istiqomah. Kita ingin berikan sesuatu yang bermanfaat, yang bisa dirasakan warga Al Washliyah di desa, kampung maupun ranting-rantin bawah,” tegasnya sembari menambahkan mari kita putuskan program kerja yang dirancang dengan azas musyawarah.

Sekjen PB Al Washliyah Masyhuril Khamis yang membuka Rakerwil II dalam arahannya mengatakan, Sumut terdiri dari 33 kabupaten/kota, 436 kecamatan, dan 5939 kelurahan. “Tugas kita di Rakerwil, kalau ingin jadikan sumut tempat lahir dan basis Al Washliyah. Ini harus kita isi,” tuturnya.

Sebelumnya Ketua Panitia Isma Fadli menjelaskan, Rakerwil II dihadiri 19 PD Al Washliyah ini akan mengambil beberapa keputusan penting untuk kelangsung Al washliyah Sumut. (bara)

Sumber :
http://analisadaily.com/kota/news/al-washliyah-kebanggaan-masyarakat/186869/2015/11/09
Read More >>

GPA Medan Marelan Komit Tegakkan Amar Makruf Nahi Mungkar

Monday, October 12, 2015

Medan - Geliat pertumbuhan bisnis di Kecamatan Medan Marelan belakangan ini sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan properti, supermarket, dan hadirnya plaza di daerah yang dahulu merupakan pemekaran dari Kecamatan Medan Labuhan itu. Jumlah penduduknya juga mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Mengamati fenomena ini Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) Kecamatan Medan Marelan akan melaksanakan program-program yang akan membangun mental dan karakter pemuda Medan Marelan agar khususnya pemuda Islam agar lebih siap menjawab tantangan perkembangan zaman.

"Pemuda harus sadar bahwa saat ini musuh yang paling berbahaya ada pada diri kita. Banyak hal yang telah membuat kita lalai dan lupa terhadap fungsi dan peran kita di tengah-tengah masyarakat. Kita banyak melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat," jelas Ketua GPA Medan Marelan Azhar SPdI, Jumat (9/10).

Menurutnya perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat informasi global dari internet semakin gampang diakses melalui handphone atau smartphone oleh siapa saja terutama kalangan generasi muda.

Tanpa diimbangi dengan kesiapan mental dan karakter yang baik, maka kecanggihan teknologi akan membawa dampak buruk bagi para generasi muda. Seperti saat ini, dekadensi moral di kalangan generasi muda bahkan semakin mengkhawatirkan.

"Lihat saja sekarang, sikap sopan santun generasi muda mulai hilang, makin banyak pemuda yang terjerumus dengan narkoba, bahkan kenakalan remaja sudah bergeser menjadi kriminalitas remaja," ungkapnya.

Untuk itu, lanjut Azhar, GPA Medan Marelan akan terus berkomitmen untuk menegakkan amar makruf nahi munkar, dengan memberi teladan kepada anak-anak, remaja, dan generasi muda lainnya untuk mengamalkan ajaran Islam secara utuh.

Secara internal GPA Marelan akan melakukan konsolidasi dengan seluruh kader dan pengurus GPA di kecamatan itu dengan menghidupkan kembali jiwa militansi kader hingga ke tingkat kelurahan-kelurahan sehingga kader GPA dapat mewarnai pemuda di lingkungan masing-masing.

“GPA Marelan harus mandiri dalam menjalankan roda organisasi dan bersifat otonom sehingga dapat berdiri dengan tegak, lurus, dan lantang, dalam menghadapi segala yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, sebab di Marelan ini kami melihat ada tempat hiburan malam yang telah menyalahi aturan dan itu harus ditegur,” tegas Azhar.

Selain itu, sambung Azhar, melihat pertumbuhan ekonomi luar biasa di Medan Marelan yang merupakan bagian dari kawasan Medan utara, GPA Medan Marelan meminta kepada Pemerintah Kota Medan untuk lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat di kecamatan itu.

"Selama ini yang kami rasakan, pembangunan di Medan Marelan ini selalu setengah hati dilakukan. Lihat saja jalan-jalan di kecamatan ini, rusak di mana-mana. Kalaupun sekarang ada perbaikan jalan, masih jauh dari yang diharapkan masyarakat," ujarnya.

Begitu juga di sektor pendidikan dan kesehatan, harus mendapat perhatian serius dari pemerintah, sebab masih banyak warga miskin di kecamatan ini yang belum bisa mengakses layanan kesehatan gratis.

"Harapan kami, aktivitas ekonomi yang menghasilkan triliunan rupiah dari kawasan Medan utara, khususnya dari Kecamatan Medan Marelan ini, tolonglah dikembalikan untuk masyarakat dalam bentuk pembangunan," ujarnya. (GUS)


Sumber :

http://harianandalas.com/kanal-medan-kita/komit-tegakkan-amar-makruf-nahi-munkar

Lihat Juga :

http://www.ketikberita.com/index.php/metropolitan/item/669-gpa-medan-marelan-komit-tegakkan-amar-makruf-nahi-mungkar 
Read More >>

PENGURUS PIMPINAN CABANG

Friday, October 9, 2015


GERAKAN PEMUDA AL WASHLIYAH
MEDAN MARELAN - MEDAN
SUMATERA UTARA - INDONESIA

Ketua Umum : Azhar, SPd.I

Ketua Umum : Azhar, SPdI




Sekretaris Umum : Khairi Jefri, SH


Sekretaris Umum : Khairi Jefri,  SH

Wakil Ketua 1 : Erwin Hasibuan
Wakil Ketua 2 : Hasan Basri, SHi
Wakil Ketua 3 : M Yamin MS, SPdI
Wakil Ketua 4 : Khaidir

Wakil Sekretaris 1 : Salim Fachri, SPdI
Wakil Sekretaris 2 :  Zainul Husni
Wakil Sekretaris 3 : Herdianto
Wakil Sekretaris 4 : Muhammad Taufiq

Bendahara : Andi Nurhasymi

Majlis Dakwah dan Pers
Ketua : Imsar, SHI
Sekretaris : Mulkan

Majlis Pendidikan dan Kader
Ketua : M Nurdin
Sekretaris : Zulkifli

Majlis Amal dan Sosial
Ketua : Ridwan
Sekretaris : Muhammad Sika

Majlis Seni dan Budaya
Ketua : Jurnalis
Sekretaris : Usman
Read More >>

Karakter Pemuda Islam

Peran pemuda di tengah masyarakat sangat berpengaruh dan pemuda lah menjadi generasi penerus yang akan melajutkan peradaban suatu bangsa.

Melihat sejarah dunia Islam, mayoritas dari assabiquunal awwaluun (orang-orang yang pertama kali beriman kepada Rasulullah SAW) adalah para pemuda (Abubakar ra masuk Islam pada usia 32 tahun, Umar ra 35 th, Ali ra 9 th, Utsman ra 30 th, dst).  Sifat-sifat para pemuda yang mendapatkan derajat tinggi sehingga kisahnya diabadikan dalam al-Qur’an dan dibaca oleh jutaan manusia dari masa ke masa, adalah sebagai berikut:
  • Mereka selalu menyeru pada al-haq (QS 7/181) 
  • Mereka mencintai Allah SWT, maka Allah SWT mencintai mereka (QS 5/54)
  • Mereka saling melindungi, menegakkan shalat (QS 9/71) tidak sebagaimana para pemuda  yang menjadi musuh Allah SWT (QS 9/67)
  • Mereka adalah para pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah SWT (QS 13/20)
  • Mereka tidak ragu berkorban diri dan harta mereka untuk kepentingan Islam (QS 49/15)
Pemuda Harus Menjadi Generasi yang Bekerja dan Aktif Berdakwah
 
Islam memandang posisi pemuda di masyarakat bukan menjadi kelompok pengekor yang sekedar berfoya-foya, membuang-buang waktu dengan aktifitas-aktivitas yang bersifat hura-hura dan tidak ada manfaatnya. Melainkan Islam menaruh harapan yang besar kepada para pemuda untuk menjadi pelopor dan motor penggerak dakwah Islam. 


Pemuda adalah kelompok masyarakat yang memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya, diantaranya adalah bahwa mereka relatif masih bersih dari pencemaran (baik aqidah maupun pemikiran), mereka memiliki semangat yang kuat dan kemampuan mobilitas yang tinggi.


Para musuh Islam sangat menyadari akan hal tersebut, sehingga mereka berusaha sekuat tenaga untuk mematikan potensi yang besar tersebut dari awalnya dan menghancurkan para pemuda dengan berbagai kegiatan yang laghwun (bersifat santai dan melalaikan), dan bahkan destruktif.  Pemuda yang baik oleh karenanya adalah pemuda yang memiliki karakteristik sebagai berikut.
 

Mereka beramal/bekerja dengan didasari dengan keimanan/aqidah yang benar
 
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’” (QS Haa Miim[41]: 33)    


Mereka selalu bekerja membangun masyarakat

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS Al Kahfi [18]: 7)

Dan mereka memahami bahwa orang yang baik adalah orang yang paling bermanfaat untuk ummat dan masyarakatnya  “Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS At Taubah [9]: 105).


Pemuda Harus Menjadi Potret Generasi Islami

Para pemuda hendaknya menyadari bahwa mereka haruslah menjadi kelompok yang mampu mempresentasikan nilai-nilai Islam secara utuh bagi masyarakat, yaitu:
 

Mereka menjadi generasi yang hidup qalbunya karena senantiasa dekat dengan al-Qur’an, dan tenang dengan dzikrullah (QS 13/28) [1], “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d [13]: 28)  bukan generasi yang berhati batu (QS 57/16) [2]  “… dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. 

Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadiid [57]: 16) akibat jauh dari nilai-nilai Islam, ataupun generasi mayat (QS 6/122) [3] yang tidak bermanfaat tetapi menebar bau busuk kemana-mana.  “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am [6]: 122)
 

Dalam menghadapi kesulitan dan tantangan, maka para pemuda harus sabar dan terus berjuang menegakkan Islam, hendaklah mereka berprinsip bahwa jika cintanya kepada Allah SWT benar, semua masalah akan terasa gampang.
    Dalam perjuangan, jika yang menjadi ukurannya adalah keridhoan manusia maka akan terasa berat, tetapi jika ukurannya keridhoan Allah SWT maka apalah artinya dunia ini (QS 16/96) [4].

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl [16]: 96)



Sebagian besar Pemuda Islam berada pada keadaan yang sangat memprihatinkan, mereka bagaikan buih, tidak memiliki bobot dan tidak memiliki nilai. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sbb:

    INDIVIDUALISME.

Mayoritas ummat Islam saat ini bekerja sendiri-sendiri dan sibuk dengan masalahnya masing-masing tanpa berusaha untuk menggalang persatuan dan membuat suatu bargaining position demi kepentingan ummat. Para ulama dan muballigh sibuk bertabligh, para pengusaha muslim sibuk dengan usahanya dan para pejabatnya sibuk mempertahankan jabatannya, tidak ada koordinasi bekerja sesuai dengan bidangnya kemudian dimusyawarahkan untuk kepentingan bersama. Hal inilah yang menyebabkan jurang pemisah antara masing-masing kelompok semakin besar.

    Emosional.

Ikatan keislaman mayoritas ummat saat ini baru pada ikatan emosional saja, belum disertai dengan kefahaman yang mendalam akan ajaran agamanya. Sehingga disiplin untuk bekerja, semangat untuk berdakwah, gairah berinfak, dsb baru pada taraf emosional, bersifat reaktif dan sesaat saja (QS 22/11).

    Orientasi kultus.

Dalam pelaksanaan ibadah ritual, menjalankan pola hidup sampai dengan mensikapi berbagai peristiwa kontemporer, mayoritas masyarakat muslim tidak berpegang kepada dasar kaidah-kaidah Islam yang jelas, karena pengetahuan keislaman yang pas-pasan, sehingga lebih memandang kepada pendapat berbagai tokoh yang dikultuskan. Celakanya para tokoh tersebut kebanyakan dikultuskan oleh berbagai lembaga yang tidak memiliki kompetensi sama sekali dalam bidang agama, seperti media massa, sehingga bermunculanlah para ulama selebriti yang berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan.

    

Dalam aspek aktifitas, maka mayoritas ummat melakukan kegiatan dakwah secara sembrono, tanpa perencanaan dan perhitungan yang matang sebagaimana yang mereka lakukan jika mereka mengelola suatu usaha. Akibat aktifitas yang asal jadi ini, maka dampak dari dakwah tersebut kurang atau tidak terasa bagi ummat. Kegiatan tabligh, ceramah, perayaan hari-hari besar agama yang dilakukan hanya sekedar menyampaikan, tanpa ada follow up dan reevaluasi terhadap hasilnya. 

Khutbah jum’at hanya sekedar melaksanakan rutinitas tanpa dilakukan pembuatan silabi yang berbobot sehingga jama’ah sebagian besar datang untuk tidur daripada mendengarkan isi khutbah. Kegiatan membaca al-Qur’an hanya terbatas kepada menikmati keindahan suara pembacanya, tanpa diiringi dengan keinginan untuk menikmati dan merenungkan isinya, sehingga disamakan dengan menikmati lagu-lagu dan nyanyian belaka.

Dalam melaksanakan Islam, mayoritas ummat tidak berusaha untuk mengamalkan keseluruhan kandungan al-Qur’an dan as-Sunnah, melainkan lebih memilih kepada bagian-bagian yang sesuai dengan keinginannya dan menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya (QS 2/85). Sehingga seorang sudah dipandang sebagai muslim sejati, hanya dengan indikator melakukan shalat atau puasa saja. Padahal shalat hanya bagian yang sangat kecil saja yang menjadi kewajiban seorang muslim, disamping aturan-aturan lain yang juga wajib dilaksanakan oleh seorang muslim dalam berekonomi, politik, pergaulan, pola pikir, cita-cita, bekerja, dsb. Yang kesemuanya tanpa kecuali akan diminta pertanggungjawaban kita di akhirat kelak (QS 2/208).

Kaum muslimin belum mampu menggunakan media-media modern secara efektif untuk kepentingan dakwah, seperti ceramah dengan simulasi komputer, VCD film-film yang islami, iklan-iklan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, kebanyakan masih mengandalkan kepada cara tradisional seperti ceramah di mesjid, musholla dan di lapangan. Isi ceramah yang disampaikan kebanyakan masih bersifat fiqih oriented; masalah-masalah aqidah, ekonomi yang islami, sistem politik yang islami, apalagi masalah-masalah dunia Islam kontemporer sama sekali belum banyak disentuh.


Dalam menyelesaikan berbagai persoalan ummat, pendekatan yang dilakukan bersifat tambal sulam dan sama sekali tidak menyentuh esensi permasalahan yang sebenarnya. Sebagai contoh, mewabahnya AIDS cara mengatasinya sama sekali bertentangan dengan Islam, yaitu dengan membagi-bagi kondom. Seolah-olah lupa atau sengaja melupakan bahwa pangkal sebab dari AIDS adalah melakukan hubungan seks tidak dengan pasangan yang sah. Dan cara menanggulanginya adalah dengan memperbaiki muatan pendidikan agama yang diajarkan dari sejak sekolah menengah sampai perguruan tinggi padahal telah jelas Islam mengajarkan Dan Jangan Sekali kali Engkau dekati Zina. Demikian pula masalah2 lainnya seperti tawuran pelajar, meningkatnya angka kriminalitas, penyalahgunaan Narkoba, menjamurnya KKN.
Read More >>

Gerakan Pemuda Al Washliyah Dalam Sejarah

Tuesday, December 23, 2014

Dalam mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, GPA ikut serta dalam sebuah gerakan rahasia dalam merebut kekuasaan

Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) Medan Marelan

Medan - 11/01/2014

Hari ini 73 tahun lalu, tepatnya 11 Januari 1941 lahir organisasi kepemudaan di lingkungan Al Jam’iyatul Washliyah disebut Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA). Kelahirannya tidak terlepas dari sikap juang dan jahadah para penggagas GPA.
GPA merupakan sketsa wajah Al Washliyah ke depan, karena generasi muda hari ini adalah regenerasi kepemimpinan Al Washliyah mendatang. Ini senada dengan apa yang pernah diungkapkan seorang pujangga Arab, Syekh Musthafa Al Ghulayani, Inna fii yadika al amra al ummati, wa fii iqdaa mikum hayaataha”, sesungguhnya di tangan pemudalah terletak segala urusan umat ini, dan di tangannya pulalah digantungkan keberlangsungan hidupnya.
Dengan demikian dapatlah dimaknai bahwasanya kehidupan generasi Al Washliyah mendatang tergantung bagaimana kehidupan GPA sendiri. Sebab itu GPA hari ini harus bangun dan bangkit dari lamunan yang mengakibatkan timbulnya penyakit tulul ‘amal panjang angan-angan.
Di saat usia GPA yang dewasa ini perlu memikirkan sekaligus mengaplikasikan sikap militansi kader dalam kehidupan berorganisasi maupun dalam kehidupan pribadi. Karenanya sikap militansi ini tercermin dari tingginya semangat juang mencapai asa dan cita yang diharapkan. Demikian juga halnya dengan GPA, untuk pengembangannya yang mengarah pada kehidupan pemuda yang lebih baik harus didasari semangat militansi tinggi. Sehingga tujuan mengamalkan ajaran Islam untuk terwujudnya pemuda yang beriman, bertakwa kepada Allah SWT guna berperanaktif dalam pembangunan nasional, dapat terwujud nyata.
Dalam perjalanan waktu GPA terus berkiprah mengisi pembangunan sesuai amanah para pejuang, pendiri dan mujahid terdahulu. GPA terus berupaya menjadi organisasi pemuda mandiri, mampu berperan maksimal, lebih berdayaguna dan berhasil. GPA merupakan wadah pemuda Islam menyalurkan aspirasinya dalam pembangunan nasional.

GPA Dalam Sejarah
GPA secara fundamen didirikan saat kongres III Al Washliyah di kota Medan, 11 Januari 1941. Inilah tonggak sejarah awal berdirinya GPA, meskipun saat itu posisi pemuda Al Washliyah masih berada dalam lingkup majelis Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah. Ini dapat dilihat dari salah satu hasil keputusan kongres:
“Membangunkan Pemuda Al Djam’ijatul Washlijah menjadi Madjlis dari Pengurus Besar Al Djam’ijatul Washlijah. Kepanduan termasuklah didalamnja”. (Ketua Gerakan Pemuda Al Washliyah I adalah Adam Usman Tanjung).
Berdirinya GPA secara ruh telah lahir beberapa tahun sebelum kongres III. Ide dan cita-cita pendirian GPA itu sudah dirasakan pada kongres pertama Al Washliyah tahun 1936 di kota Medan. Karena ketika itu dirasakan pentingnya generasi muda Al Washliyah sebagai pelanjut dan penerus estafet usaha dan amal Al Washliyah. Setelah itu, ruh pendirian pemuda Al Washliyah ini diperkuat lagi dalam kongres II tahun 1938 juga di Medan.
Sejarah telah mencatat bagaimana sulitnya hidup pada zaman penjajah. Sulit dalam hal apa saja, bahkan sulit dalam hal mendapat mendapatkan sandang pangan, sulit menegakkan akidah dan keyaklinan. Seluruh rakyat Indonesia ketika itu merasakan bagaimana pahit dan kejamnya perlakuan penjajah terhadap rakyat Indonesia.
Meski getirnya kehidupan masa itu, tidaklah membuat pemuda Al Washliyah surut di tengah jalan, bahkan membuat semakin bersemangat dan motivasi yang menimbulkan militansi melaksanakan cita-cita perjuangan Al Washliyah.
Karenanya dalam buku Al Djam’ijatul Washlijah ¼ Abad menyebutkan empat hal perkembangan yang telah dilakukan Pemuda Al Washliyah, yaitu: Pertama, membangun cabang dan ranting di mana-mana. Anggota PP. Pemuda selalu mengadakan perjalanan keluar sehingga pada masa itu dapatlah didirkan Pemuda Al Washliyah di Sumatera Timur, Tapanuli dan Aceh.
Kedua, mengisi jiwa pemuda Islam agar bertanggungjawab terhadap diri maupun orang lain. Ketiga, menyadarkan pemuda Islam untuk tidak rendah diri berhadapan dengan pemuda lainnya, dan tidak berpangku tangan dalam kemajuan umat. Keempat, menggerakkan pemuda Islam agar turut serta menyumbangkan tenaganya untuk menjalankan usaha-usaha Al Washliyah.
Dalam hal mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, GPA ikut serta dalam sebuah gerakan rahasia dalam merebut kekuasaan dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan dari penjajah. Pemuda Al Washliyah merupakan salah satu kepemudaan yang membentuk gerakan rahasia dengan nama Barisan Pemuda Indonesia. Setelah itu dikerahkanlah seluruh pemuda Al Washliyah untuk bergabung dengan Barisan Pemuda Indonesia dimana saja berada.
Di balik itu juga ada satu momen penting bagi pemuda Al Washliyah dalam menentukan dan menegakkan NKRI di Sumatera Utara. Saat sesudah agresi kedua, bulan Desember 1948 adanya keinginan sebagian komponen bangsa yang ingin mendirikan Negara Sumatera Timur (NST). Untuk itu pemuda Al Washliyah ikut serta dalam Kongres Rakyat untuk menentukan dan memutuskan hidup tidaknya NST. Atas semangat NKRI, maka para mujahid Pemuda Al Washliyah ikut menggiring kembali kepara NKRI.
Paling tidak ada dua hal yang perlu kita ingat dari para pejuang dan mujahid Pemuda Al Washliyah terdahulu: Pertama, semangat jihad tinggi menegakkan amar ma’ruf  nahi munkar. Mereka berjuang dan berjihad tidak mengenal lelah dan sulit, baik di kala ada maupun tiada. Kedua, militansi para pejuang dan mujahid Pemuda Al Washliyah terdahulu harus tetap dimiliki oleh GPA saat ini dan akan datang.
Untuk itu jadilah Pemuda Al Washliyah yang berguna dengan memiliki kualitas hidup. Sebab tidak seorang pun yang tidak berguna di dunia ini selama ia mampu meringankan beban orang lain dan tidak menjadi beban masyarakat. Akhirnya dengan semangat juang dan jihad fi sabilillah saya ucapkan dirgahayu ke 73 GPA, semoga tetap jaya zaman berzaman.
Bicara mewujudkan militansi kader GPA, maka ada dua hal yang perlu menjadi fokus perhatian.Pertama, berani. GPA harus berani menghadapi apapun, selagi itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Berani mengatakan yang benar adalah suatu keharusan bagi kader GPA, karena terkadang untuk mengatakan kebenaran itu terasa berat dan kesat ketika hendap terucap.
Di zaman teknologi informasi sekarang, maka GPA harus berani memanfaatkannya. Karena kalau tidak berarti akan tenggelam dan tergilas dimakan zaman. Sebaliknya kalau GPA terlalu berani sehingga melebihi batas-batas norma agama, maka dapat menimbulkan kekufuran yang menyesatkan. Karenanya GPA harus berani menghadapi fase-fase zaman yang begitu cepat berubah dan harus konsisten serta berorientasi pada hasil (result oriented).
Kedua, terlatih. Pada prinsipnya, GPA sebagai wadah latihan bagi generasi muda khususnya pemuda Al Washliyah. Meskipun demikian kader GPA harus benar-benar terlatih dalam hal apapun. Terlatih dalam melaksanakan ibadah, terlatih dalam berbuat kebajikan, terlatih dalam melaksanakan amanah. Dengan itu GPA dapat secara perlahan mencapai militansi kader yang diharapkan.


Oleh H. Isma Padli A.Pulungan, SAg, SH, MH
Penulis adalah Ketua GPA Sumut.

Dikutip dari : www.waspadamedan.com
Read More >>

Sejarah Singkat Berdirinya Al Washliyah

Tuesday, January 29, 2013

Medan - Al Jam’iyatul Washliyah merupakan salah satu organisasi Islam yang ada di Kota Medan, dan juga merupakan Organisasi Masa terbesar di Sumatera Utara, Organisasi ini didirikan pada 30 November 1930 dan bertepatan 9 Rajab 1349 H di kota Medan,Sumatera Utara. 

Al Jam’iyatul Washliyah yang lebih dikenal dengan sebutan Al Washliyah lahir ketika bangsa Indonesia masih dalam penjajahan Hindia Belanda. Sehingga para pendiri Al Washliyah ketika itu turut berperang melawan penjajah. Tidak sedikit para tokoh Al Washliyah yang ditangkap Belanda dan dijebloskan ke penjara hingga menjadi shahid.

Read More >>
 

Most Reading